Mataram, NTB – Dalam semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama, Penyuluh Agama Hindu Kota Mataram turut serta dalam peringatan Hari Santri Nasional 2024 yang digelar di halaman Kantor Kementerian Agama Kota Mataram. Partisipasi aktif mereka dalam acara ini menjadi simbol kuat persatuan dan keharmonisan di antara berbagai kelompok keagamaan di Indonesia.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk para santri, tokoh agama, serta pejabat pemerintah setempat. Dipimpin oleh H. Hamdun selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Mataram, kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Provinsi NTB atas nama Ni Made Sudarsini, juga memberikan sambutan hangat, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi bangsa.
Dalam wawancaranya, Ni Made Sudarsini menyampaikan apresiasinya atas undangan untuk berpartisipasi dalam peringatan Hari Santri Nasional. Menurutnya, peringatan ini tidak hanya milik umat Islam saja, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan para santri dalam membangun dan mempertahankan negeri. “Hari Santri adalah momentum kebersamaan kita sebagai bangsa yang beraneka ragam, di mana peran santri juga diakui sebagai bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa,” ungkapnya.
Keterlibatan penyuluh agama dari berbagai agama, termasuk Hindu, dalam peringatan ini mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bersatu dalam menjaga kedamaian dan harmoni di tengah keberagaman Indonesia. Acara diakhiri dengan doa bersama lintas agama, sebagai simbol persatuan dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Ni Wayan Sriningsih sebagai Penyelenggara Bimas Hindu Kota Mataram, juga turut memberikan pandangannya dalam peringatan ini. Ia menyampaikan bahwa Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap 22 Oktober, merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan. “Hari Santri adalah penghargaan bagi para santri yang telah berjuang mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada masa itu, santri tidak hanya tokoh agama Islam, tetapi juga melibatkan tokoh Hindu, Kristen, Katolik, Buddha, dan penganut kepercayaan lainnya yang bersatu untuk mempertahankan kedaulatan negara,” jelasnya.
Ni Wayan Sriningsih menambahkan, peringatan Hari Santri Nasional ke-10 ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk selalu mengenang jasa para pahlawan, terutama santri, yang dengan gigih berjuang demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. “Peringatan ini harus terus kita lestarikan sebagai wujud rasa syukur dan penghargaan terhadap mereka yang telah berjuang demi NKRI,” tutupnya.
Dengan momentum peringatan ini, diharapkan semangat persatuan, toleransi, dan kerja sama antarumat beragama semakin kuat, khususnya di Kota Mataram dan seluruh wilayah Indonesia. Peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya menjadi ajang refleksi terhadap perjuangan para santri dalam mempertahankan keutuhan bangsa, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan lintas agama di tengah keberagaman yang ada. Semangat kebersamaan dan gotong royong yang tercermin dalam acara ini diharapkan terus menjadi landasan dalam membangun masyarakat yang harmonis, damai, dan penuh toleransi, demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bersatu. (sahri)
